Briptu Norman, kita tertawa atau memuji?

“Chal Chaiyya Chaiyya Chaiyya Chaiyya.. Saare Ishq Ki Chaaon Chal Chaiyya Chaiyya.. Saare Ishq Ki Chaaon Chal Chaiyya Chaiyya.. Paanv Janat Chale Chal Chaiyya Chaiyya.. Paanv Janat Chale Chal Chaiyya Chaiyya..”

Sebait lirik lagu India diatas saya tulis bukan karena saya sangat hafal atau sudah membeli VCD bajakan. Melainkan hasil copas dari blog orang lain yang saya lupa namanya. Cukup butuh Ctrl A + Ctrl V lalu pindahkan ke notepad sambil sesekali dibaca sekilas meskipun sangat susah melafalkannya, atau mungkin lidah saya yang terlalu pendek. Ah masa bodo, yang penting bisa saya copas ke dalam blog ini.

Bagi penggemar musik india, banyak-banyak berterima kasihlah pada anggota Brimob Gorontalo ini. Berkat keberuntungannya, dan sedikit bumbu-bumbu anti malu kita seakan dibawa kembali pada era akhir 90an dimana demam film dan musik india melanda negeri ini.

Mirip sebuah wabah penyakit menular yang sulit untuk disembuhkan. Dimana-mana beritanya tentang seorang polisi bernyanyi lagu India. Tak ketinggalan dunia internet juga makin banyak searching tentang Briptu Norman demi memenuhi rasa penasaran akan video amatir tersebut.

Sebut namanya Briptu Norman Kamaru. Anggota Brimob Polda Gorontalo yang baru-baru ini ketiban rejeki durian runtuh menjadi penyanyi India dadakan karena video isengnya setelah diunggah keYoutube. Seakan mengulang suksesor dari duet lipsync Shinta Jojo atau si banci Udin sedunia yang terkenal lewat situs penggugah video milik Google itu. Jaman sekarang memang harus berani narsis didepan kamera jika ingin terkenal. Ada yang ingin mengikuti? lumayan lho, bisa tenar tanpa modal sama sekali,

Gaya khas India seperti gerakan tangan memukul-mukul kebawah dan tangan yang menengadah keatas mirip orang berdoa berhasil menyita perhatian publik dalam 2 minggu terakhir ini. Bahkan anak-anak kecil saja sudah hafal menyanyikannya bak seorang Sahrukh Khan dalam adegan bernyanyi ciri khas film india kebanyakan. Tak heran juga para pedagang VCD bajakan meraup hasil panen yang luar biasa besar untuk ukuran CD penyanyi lokal. Sungguh berkah pagi pelaku pembajakan.

Seminggu ini Briptu Norman berulang kali diundang bernyanyi di semua acara hiburanĀ  stasiun televisi swasta. Tawaran menggiurkan sebagai artis membuat ia rela terbang jauh dari Gorontalo ke Jakarta meraih mimpi bakatnya sebagai penyanyi. Cuti atau alasan apa yang ia pakai saya sendiri tidak tahu. Semula atas dasar pemanggilan pihak POLRI yang ingin meminta klarifikasi dari Norman. Namun akhirnya Kapolri mendukung penuh Norman untuk bernyanyi di depan publik lewat layar kaca hingga berlanjut sampai detik ini.

Tidak. Briptu Norman tidak memakai baju jubah tipis dengan balutan selendang cerah seperti seorang artis India pada umumnya. Namun ia bernyanyi di televisi tetap memakai seragam Brimob lengkap dengan baret dan pisau belati diikat pinggang sesuai dengan apa yang menjadi ciri khasnya didalam video.

Semalam pun ia bernyanyi lagi disebuah stasiun TV swasta sambil berjoget ala India ditemani “cewek” seksi bernama Olga Syahputra berlenggak lenggok didepan kamera seakan hanya dia dan Briptu Norman saja yang ada diruangan itu. Mirip dan pas sekali dengan kebanyakan video India yang kita tonton.

Dengan pakaian seragam lengkap ala pahlawan pembela kebenaran Briptu Norman sangat padu berduet dengan Olga yang (maaf) belum pantas disebut sebagai laki-laki. Tampang kewibawaan seorang perwira polisi seakan luntur terkikis oleh “kelembutan” seorang presenter sebuah acara terkenal yang bergaya seperti perempuan.

Beberapa teman saya tertawa melihat tingkah laku duet penyanyi berlatar belakang berbeda itu. “Hey, dia itu polisi teman, kenapa kamu tertawa seperti itu?” Briptu Norman bukan seorang badut ancol atau pelawak kondang yang pantas ditertawakan. Dia adalah seorang anggota Brimob Polda yang hanya sedikit menikmati popularitas dari pekerjaannya. Walaupun kadang tingkah laku oknum polisi kebanyakan sangat menjengkelkan bagi saya.

Namun pada akhirnya lama-lama saya merasa risih dan kasihan juga melihat dia bernyanyi didepan publik bagai sebuah tontonan jalanan yang membuat beberapa orang tersenyum simpul bahkan tertawa. Dengan memakai seragam lengkap ditambah beberapa atribut kepolisian secara tidak langsung ia mewakili semua keluarga besar POLRI didepan layar kaca. Membawa nilai dan wibawa seorang abdi negara demi konsumsi publik mengacu pada selera pasar Indonesia yang demen ikut-ikutan.

Briptu Norman sudah cukup tampil lagi ditelevisi. Dia harus kembali ke gorontalo dan menyelesaikan tugas nyatanya sebagai polisi bukannya enjoy menerima banyak tawaran syuting. Negara menggajimu sebagai polisi dan haruslah melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai abdi negara bukannya menjadi tontonan acara hiburan televisi.

Tidak tahu apa yang seharusnya saya lakukan begitu melihatnya. Mau tertawa atau memuji? yang jelas jika saya seorang perwira polisi mungkin menutupi muka dengan bantal adalah cara tepat mengusir rasa malu saya pada institusi yang saya bela.

***

Iklan